Elegi tentang kesetiaan, watak manusia, dan air yang tak boleh dibeli oleh kepalsuan.
Dua puluh tahun telah berlalu, dan aku masih berdiri di sini, di tepi sebuah sumur tua, tempat dahulu aku menunduk, menangkupkan kedua tangan, lalu meminum airnya dengan rasa syukur yang sederhana.
Waktu telah mengubah banyak hal. Wajah-wajah datang silih berganti, langkah-langkah singgah lalu pergi, sebagian meninggalkan jejak, sebagian meninggalkan luka, dan sebagian lagi bahkan tak sempat dikenang selain dari cerita yang dibisikkan angin.
Namun sumur ini tetap di sini. Dan aku, masih menjadi saksi atas segala yang pernah terjadi.
Aku telah melihat orang datang dengan ember kosong dan niat yang baik, lalu pulang membawa air secukupnya untuk menghidupi ladang dan keluarganya.
Aku juga melihat mereka yang datang dengan ember sebesar ambisi, menimba air sebanyak-banyaknya, tak peduli siapa yang kehausan, tak peduli apakah dasar sumur mulai mengering, seolah-olah air yang mengalir di sini adalah warisan nenek moyangnya.
Ada yang tekun merawat dinding sumur, membersihkan lumut, menyingkirkan kotoran, memastikan air tetap jernih bagi siapa pun yang kelak datang.
Ada pula yang tak pernah menyentuh timba, tetapi paling lantang bercerita tentang betapa besar jasanya menjaga sumur.
Ada yang datang membawa kerja keras, ada yang membawa integritas, ada yang membawa kesetiaan yang tak pernah membutuhkan tepuk tangan.
Tetapi ada pula yang membawa senyum sebagai mata uang pergaulan, pujian sebagai tangga kekuasaan, dan lidah yang begitu lentur hingga sanggup menjilat tangan yang kemarin diam-diam digigitnya.
Ah, manusia memang makhluk yang menarik.
Di tepi sumur yang sama, mereka bisa menjadi saudara ketika airnya melimpah, lalu menjadi musuh ketika timba tak lagi cukup untuk memenuhi dahaga masing-masing.
Mereka merangkai intrik, menyusun siasat, memoles kata-kata menjadi mahkota, dan mengubah kepentingan pribadi menjadi pidato tentang pengabdian.
Ada yang sibuk membangun citra hingga lupa membangun makna. Ada yang pandai menghitung keuntungan tetapi kehilangan kemampuan untuk menghitung rasa malu.
Ada yang bekerja dalam diam, sementara namanya tenggelam di antara gemuruh pujian bagi orang lain.
Dan ada yang begitu sibuk memastikan dirinya terlihat berjasa, sampai tak menyadari bahwa yang ia rawat sesungguhnya bukanlah sumur, melainkan bayangan dirinya sendiri.
Aku melihat semuanya.
Tawa yang tulus, air mata yang disembunyikan, persahabatan yang diuji kepentingan, kejujuran yang dibayar mahal, serta pengkhianatan yang dibungkus dengan kata profesionalisme.
Aku pernah dongkol. Pernah kecewa. Pernah bertanya dalam hati, mengapa mereka yang menjaga kejernihan justru sering dituduh mengeruhkan air, sementara mereka yang mengaduk lumpur dengan lihai berdiri di tepian sambil menunjuk orang lain sebagai pencemar?
Tetapi waktu mengajariku sesuatu.
Tidak semua yang tersenyum adalah kawan. Tidak semua yang memuji adalah tulus. Tidak semua yang naik ke atas benar-benar sedang bertumbuh.
Dan tidak semua yang tetap tinggal berarti tak punya kesempatan untuk pergi.
Terkadang, seseorang bertahan bukan karena tak mampu melangkah, melainkan karena ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar berpindah tempat: **menjaga kehormatan diri di tengah dunia yang sibuk menawar harga.**
Maka aku memilih tetap di sini.
Bukan karena aku tak melihat keburukan, bukan pula karena aku tak memahami permainan.
Aku hanya telah terlalu lama belajar bahwa hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang paling dekat dengan keran kekuasaan.
Sebab pada akhirnya, yang menentukan nilai seseorang bukan seberapa banyak air yang berhasil ia bawa pulang, melainkan apakah tangannya masih bersih ketika ia menimba, dan apakah ia masih punya rasa malu ketika orang lain tak lagi melihat.
Dua puluh tahun.
Aku tak tahu sudah berapa banyak yang datang untuk meminum air sumur ini, berapa banyak yang pergi dengan haus yang terpuaskan, dan berapa banyak yang pulang dengan membawa cerita tentang dirinya sendiri.
Sebagian mungkin mengingatku. Sebagian mungkin melupakanku. Sebagian mungkin menganggapku terlalu diam, terlalu biasa, atau terlalu lama bertahan di tempat yang sama.
Tak mengapa.
Pohon yang berakar dalam memang tak selalu tampak berjalan. Ia hanya berdiri, menahan musim, memberi teduh, dan membiarkan waktu menguji kekuatan akarnya.
Aku pun tak perlu memenangkan setiap perdebatan di tepi sumur. Tak perlu meluruskan setiap lidah, membongkar setiap kepalsuan, atau membalas setiap perlakuan yang meninggalkan rasa pahit.
Sebab aku telah mengerti: **tak semua lumpur harus dilawan dengan tangan; terkadang cukup dengan tidak membiarkannya menjadi bagian dari air yang kita minum.**
Biarlah mereka datang dan pergi. Biarlah ambisi berganti wajah, jabatan berganti nama, dan tepuk tangan berpindah arah.
Biarlah sejarah mencatat siapa yang berdiri di panggung, dan siapa yang namanya diteriakkan paling keras.
Aku tak sedang berlomba menjadi nama yang paling diingat.
Aku hanya ingin, ketika suatu hari nanti aku benar-benar meninggalkan sumur ini, aku dapat menoleh sekali lagi tanpa harus menundukkan kepala.
Aku ingin tahu bahwa selama dua puluh tahun itu, meski berkali-kali menyaksikan air diaduk, meski sesekali ikut merasakan pahitnya, aku tak pernah sengaja menuangkan racun ke dalamnya.
Aku mungkin bukan orang yang paling banyak menimba. Bukan pula orang yang paling dipuji karena menjaganya.
Tetapi jika kelak seseorang bertanya, siapa yang pernah berdiri lama di tepi sumur itu, biarlah jawabannya sederhana:
Ia bukan pemilik sumur. Ia bukan penguasa air. Ia bukan pula orang suci yang tak pernah kecewa.
Ia hanya seseorang yang selama dua puluh tahun telah meminum air dari tempat itu, menyaksikan segala tabiat manusia, menelan pahit dan manis kehidupan, lalu memilih untuk tetap menjaga apa yang masih bisa dijaganya.
**Sebab baginya, bekerja bukan sekadar tentang mencari air untuk diri sendiri, melainkan juga memastikan bahwa orang-orang yang datang sesudahnya masih menemukan air yang layak diminum.**
Dan bila suatu hari sumur itu kehilangan airnya, aku tak ingin dikenang sebagai orang yang paling pandai berpidato tentang kejernihan.
Aku ingin dikenang sebagai orang yang, meski tak sempurna, pernah berusaha menjaganya.
Sebab jabatan hanyalah giliran, pujian hanyalah gema, kekuasaan hanyalah pinjaman, dan manusia— sehebat apa pun ia merasa dirinya— pada akhirnya akan meninggalkan tepian.
Hanya satu pertanyaan yang akan tinggal:
**Ketika kita selesai menimba, apakah sumur itu menjadi lebih jernih karena kita pernah berada di sana, atau justru lebih keruh karena kita tak pernah puas mengambil segala yang bukan milik kita?**
Dua puluh tahun telah berlalu.
Aku masih berdiri di sini.
Bukan untuk menghakimi siapa pun, bukan pula untuk membuktikan bahwa akulah yang paling setia.
Aku hanya ingin meneguk air sekali lagi, merasakan kesegarannya, memandang pantulan wajahku sendiri, dan memastikan bahwa di antara segala perubahan yang telah disaksikan sumur ini—
No comments:
Post a Comment